Menkmati Pagi di Kebun Teh Jalan Cagak, Subang

Menkmati Pagi di Kebun Teh Jalan Cagak, Subang -  “Dingin Pap, ieu dimana?” Ini dimana? Begitu kira-kira pertanyaan yang terlontar dari mulut Khansa ketika saya menepikan sepeda motor di sekitaran kebun teh di Jalan Cagak, Subang. Awalnya saya kira nama jalan cagak itu adalah sebuah nama jalan saja, karena memang di sana ada sebuah rute jalan yang seolah memiliki cagak, terbagi dua. Tapi ternyata, Jalan Cagak ini juga adalah nama sebuah kecamatan ya. Jadi tepatnya kebun teh tempat saya dan istri menepikan sepeda motor ini berada di Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Subang.

Entahlah, waktu itu saya bersama istri hanya ingin mengusir rasa bosan saja di hari libur, dengan motor-motoran berkeliling kota Sumedang bersama Khansa. Hingga sampai di suatu titik, dengan hanya sedikit perencanaan di perjalanan, stang sepeda motor tiba-tiba terpelintir ke arah Paniisan Tanjungmedar, lalu ke kabupaten tetangga, Subang.

“Pap, main ke Subang yuk?” Kalimat itu, ajakan istri yang tak bisa saya tolak. Bukan, bukan ingin ke tempat wisata yang ada di sana, katanya ia hanya ingin menjajal perjalanan menuju kebun teh Subang dengan menggunakan sepeda motor, ingin rasakan udara segarnya, dan lain-lain. Karena ketika berwisata ke arah Lembang menggunakan mobil, tempat itu biasanya terlewat begitu saja. Selain itu, katanya ia juga ingin memperlihatkan banyak hal pada Khansa di sepanjang perjalanan.
Menikmati udara pagi di kebun teh Jalan Cagak, Subang
Dan sesampainya di lokasi, dada kami berdua langsung kembang kempis maksimal menghirup udara segar, apalagi hari masih terhitung pagi. Sebutlah ini wisata dadakan walau tak mengunjungi tempat wisata yang sebenarnya.

Dari berbagai sumber disebutkan, perkebunan teh ini termasuk wilayah yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII atau mudahnya disebut PTPN 8. Dikenal dengan nama Kebun Ciater atau Perkebunan Ciater, ia dikategorikan sebagai perkebunan teh dataran medium (1.050 meter DPL) yang merupakan warisan dari masa penjajahan Belanda, dimana keberadaannya sudah eksis sejak tahun 1934.

Dan karena pada awalnya tak memiliki niat tuk sengaja berwisata, akhirnya kami pun bingung akan melakukan apa setelah sampai di kebun teh ini, hhe. Jika pun perjalanan akan dilanjut ke Tangkuban Perahu, kami benar-benar tak ada persiapan untuk itu. Akhirnya, seperti bikers lain yang sejenak beristirahat dalam perjalanan, sembari berdiam di pinggir jalan kami menikmati cemilan yang sengaja dibeli sebelum berangkat. Sambil melihat penjual nanas yang berbaris rapi di bahu-bahu jalan, melihat hampar kebun teh, itu benar-benar memanjakan mata.

Dan akhirnya, memanfaatkan moment, apalagi yang kan dilakukan kalau bukan berfoto ria. Dan sekalian saja, memperkenalkan tanaman teh di sejauh mata memandang itu pada Khansa, ya, ini pertama kalinya ia melihat tanaman menyemak itu. Dan benar saja seperti dugaan, ia memang penasaran pada “barang baru” yang ada di hadapannya.

“De, ini namanya pohon Teh,” Ucap istri sambil menggendongnya.
“Poon teh,” Ulangnya.

Yap, dan satu nama tanaman, masuk ke dalam ingatannya secara kata dan visual. Itu memang selalu kami lakukan, dan pastinya juga orang tua lain lakukan di berbagai kesempatan.

Singkat itu sampai kami pulang kembali. Dan di rumah, Khansa ternyata tak lupa dan mengabsen apa yang tadi dilihatnya “Dede tadi liat cawah, kebau, poon teh, sama nanas,” Katanya dalam logat cadelnya. Semua adalah tentang yang dilihat selama perjalanan dan apa yang tersaji di kebun teh. Sepertinya itu jadi pengalaman yang menyenangkan untuknya, belajar kata benda baru dengan langsung melihat wujudnya :)

1 comment:

  1. Kebun teh yang pernah gue kunjungi baru di Puncak aja. Belum sampai Subang. Haha. :D

    "Poon teh". XD

    Lucu ya si Khansa dan anak-anak kecil pada umumnya. Menyebut dan mengulangi apa yang diucapkan orang tua atau orang lain.

    ReplyDelete

@jeryanuar